Indonesia tidak pernah dijajah ole belanda selama 350 tahun

September 25th, 2009

“Wij sluiten nu.Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin!” (Kami akhiri sekarang. Selamat berpisah sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sang Ratu!). Demikian NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij/Maskapai Radio Siaran Hindia Belanda) mengakhiri siarannya pada tanggal 8 Maret 1942.

Enam puluh enam tahun yang lalu, tepatnya 8 Maret 1942, penjajahan Belanda di Indonesia berakhir sudah. Rupanya “waktu yang lebih baik” dalam siaran terakhir NIROM itu tidak pernah ada karena sejak 8 Maret 1942 Indonesia diduduki Pemerintahan Militer Jepang hingga tahun 1945. Indonesia menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Benarkah demikian? Untuk ke sekian kalinya, harus ditegaskan bahwa “Tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun”. Masyarakat memang tidak bisa disalahkan karena anggapan itu sudah tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah sejak Indonesia merdeka! Tidak bisa disalahkan juga ketika Bung Karno mengatakan, “Indonesia dijajah selama 350 tahun!” Sebab, ucapan ini hanya untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan (1946-1949) menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Bung Karno menyatakan hal ini agaknya juga untuk meng-counter ucapan para penguasa Hindia Belanda. De Jong, misalnya, dengan arogan berkata, “Belanda sudah berkuasa 300 tahun dan masih akan berkuasa 300 tahun lagi!” Lalu Colijn yang dengan pongah berkoar, “Belanda tak akan tergoyahkan karena Belanda ini sekuat (Gunung) Mount Blanc di Alpen.”

Tulisan ini akan menjelaskan bahwa anggapan yang sudah menjadi mitos itu, tidak benar. Mari kita lihat sejak kapan kita (Indonesia) dijajah dan kapan pula penjajahan itu berakhir.

Kedatangan penjajah

Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.

Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke Timor. Dengan semboyan “gospel, glory, and gold” mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol.

Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.

Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten. Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.

Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama Verenigde Oost-Indische Compagnie (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.

Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi “izin dagang” (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di Asia (monopoli perdagangan).

Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi “negara dalam negara” dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC, kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630. Beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi “tusschen personen” (perantara) penguasa VOC dan rakyat.

“Power tends to Corrupt.” Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari “cacing cau” hingga Gubernur Jenderalnya. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.

Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912).

Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur). Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Saat-saat akhir

Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.

Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.

Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.

Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.

Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten, Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.

Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.

Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa “Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur.” Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.

Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret 1942 pukul 08.00 dalam siaran radio Bandung, terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan dan melakukan kapitulasi tanpa syarat.

Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.

Analisis

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).

Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.

Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara.

The End

Buku Radith

September 25th, 2009

Babi Ngesot

Kambingjantan: Sebuah Komik Pelajar Bodoh

Harga : Rp 33.000
Penerbit: Gagasmedia, 2008

Komik Komedi ini ditulis oleh Raditya Dika dan diilustrasikan oleh Dio Rudiman. Berisi 6 chapter tentang pengalaman Radith kuliah di Adelaide, Australia. Lengkap dengan penggabaran gaya lebay oleh Dio Rudiman. Simak Radith yang ditaksir cewek Korea, mencoba mempecundangi orang Kediri, membantu teman arabnya mendapatkan bule, sampai membuat seorang Jepang dideportasi. Cerita di komik ini semuanya berbeda dengan buku Kambingjantan yang diterbitkan sebelumnya.

buku ini di Toko Buku Online kutukutubuku.com.

============

Babi Ngesot

Babi Ngesot : Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang

Harga : Rp 32.000
Penerbit: Bukune, 2008

Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang adalah kumpulan cerita pendek pengalaman pribadi Raditya Dika, penulis Indonesia terbodoh saat ini. Benang merah dari buku Babi Ngesot adalah ketakutan-ketakutan Radith dalam hidup, termasuk: kalang kabut digencet kakak kelas, dihantuin setan rambut poni, sampai perjuangan menyelamatkan keteknya yang sedang “sakit”. Simak tujuh belas cerita aneh-tapi-nyata Raditya di buku ini.

buku ini di Toko Buku Online kutukutubuku.com.

============

Bukan Binatang Biasa

Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa
Harga : Rp 30.000
Penerbit: Gagasmedia, 2007

Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa adalah buku hasil tulisan Raditya Dika, berisi pengalaman-pengalaman pribadi Raditya Dika sendiri yang bego, tolol, dan cenderung ajaib. Simak kisah Raditya Dika jadi badut Monas sehari, ngajar bimbingan belajar, dikira hantu penunggu WC, sampai kena kutuk orang NTB. Penulis Indonesia, tidak pernah segoblok ini.

buku ini di Toko Buku Online kutukutubuku.com.

============


Cinta Brontosaurus
Penerbit: Gagasmedia, 2006
Harga: Rp 19,000

Cinta Brontosaurus adalah buku kedua Raditya Dika, hampir sama dengan Kambingjantan, masih bercerita tentang kehidupannya pribadinya. Kali ini Radith bercerita tentang pengalaman cintanya yang kayaknya selalu saja sial. Isi dari buku ini meliputi dari sewaktu Radith ngirim surat cinta pertama ke teman SD-nya (yang berakhir dengan sangat tragis) hingga pengalaman Radith memerhatikan kucing Persia-nya yang jatuh dengan kucing kampung tetangganya. Buku ini punya benang merah kisah cinta Raditya Dika dari dulu sampai sekarang.


buku ini di Toko Buku Online kutukutubuku.com.

============

Kambingjantan
Penerbit: Gagasmedia, 2005
Harga: Rp 29,000

Kambingjantan adalah buku pertama Raditya Dika, berisi pengalamannya sewaktu masih di Adelaide, Australia. Kisah-kisah yang ada di dalamnya meliputi pengalamannya sebagai mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri, yang diambil langsung dari blog-nya yang dulu beralamat di www.kambingjantan.com.

Semua cerita-ceritanya ini ditulis dengan gaya humor yang goblok, ancur, dan lepas pakem. Buku ini juga merupakan buku-blog Indonesia yang pertama.


buku ini di Toko Buku Online kutukutubuku.com.

The End

HUMOR KEDOKTERAN

September 25th, 2009

Dunia kedokteran tidak selamanya serem dan tegang tapi ada sisi lain dunia kedokteran disini. Selamat berhahahihi… :)

Beda Pelayanan

Berenang

Cabut Gigi

Dewa

Dokter Gigi

Dokter Teledor

Istirahat

Obat Diet

Obat Keras

Operasi Sederhana

Sayang Istri

Sakit Ggi

Suara di Tembok

Tumor Otak

The End

Tips Sehat

September 25th, 2009

Pada halaman ini akan saya sajikan tips2 baru tentang kesehatan. Semoga bermanfaat.

DIET

FITNES

GIZI

PENCEGAHAN PENYAKIT

penulis: http://widiantopanca.blogdetik.com

The End

After The Funeral

September 24th, 2009

Pertama-tama, sekarang lagi banyak banget lomba penulisan, dan ini yang paling lucu,
lomba ngasih komentar dalam 140 karakter (kayak twitter) hahaha.

Buat yang mo ikutan klik:

http://www.waktunyahpmini.com

Cuman nulis dikit aja dapet laptop. :D

***

Okay. Here goes, gue harus nulis ini:

Temen baik gue meninggal minggu lalu.
Temen gue dari SMA sampe sekarang.
One of the smartest friends I got.

Kabar duka itu menabrak gue tiba-tiba di tengah pagi buta, lewat sebuah SMS. Begitu gue baca SMS yang mengabarkan dia meninggal, di saat itu pula gue diem lama. It made me think. Ketika salah satu dari teman baik lo meninggal, di saat itu juga kita sadar bahwa, we are not invincible. Sebelumnya, gue selalu menganggap kematian sebagai suatu hal yang jauh dari diri gue. Gue selalu berpikir, “Well, men, gue masih 24 tahun, gue gak mungkin kenapa-kenapa! Orang jarang ada meninggal umur 24 tahun. Gue bakal mati karena tua.” Sekarang, kematian temen gue ini seperti semacam wake-up call bagi gue. Bahwa no, you are not invicible. It could be you. Umur gak ada yang tahu.

So, keesokan harinya,
I came to her funeral.

Dan sewaktu gue dateng ke pemakaman dia, ada temen-temen gue juga di sana. Di antara temen-temen gue yang dateng, ada yang enggak terlalu kenal sama dia. Ada yang udah kenal banget. Ada yang dulu temen sekelas. Ada yang emang baru deket setelah lulus. Bermacam-macam temen dateng ke sana, tapi mereka punya satu kesamaan: they wanted to see her for the last time. Mereka sayang sama temen gue itu. Mereka menyayangkan kenapa hidupnya harus selesai secepet itu.

As I sat outside, di kursi yang disediakan untuk pelayat, ada yang bilang, “Sayang banget ya, orangnya baik.” Gue sendiri bilang, “Dia bener-bener salah satu orang yang menginspirasi gue”. I know we shouldn’t talk about the dead pas lagi ngelayat. But I can’t help it. She really inspires me. Tulisan-tulisan dia witty, cerkas. Dia pintar. Gue suka banget ngobrol sama dia. Dia mengenalkan gue pada banyak penulis. And then I saw her di pembaringan, smiling peacefully. Kayak tidur nyenyak. So, this is death, my friend? Is it this peaceful?

And you know what? Duduk di antara pelayat-pelayat itu, I can’t help to wonder: gimana ya pemakaman gue nanti? Yes, kadang gue suka berkhayal, seperti apa pemakaman gue nanti. Apa banyak yang datang? Apa ada yang datang? Apa yang mereka bakal bilang tentang gue? Apa kenangan yang mereka inget tetang gue? Apa ada yang rela nyetir mobil, susah-susah parkir, untuk ngeliat gue untuk terakhir kali ya? Apa iya, ada?

Kadang gue ngerasa, kematian adalah topik yang sensitif untuk kita.
Sesuatu yang “ada” tapi selalu kita deny keberadaannya.
Living is constant denying for death.

Kita hidup di dunia ini seolah-olah kematian tidak exist. Kita makan, kita bercanda, kita karaoke, kita jatuh cinta. We forget about death. We are too busy with our distraction. But it is there. And when it hits, it hits hard. Gue udah kehilangan nenek gue. Itu sekali. Kehilangan tante gue. Itu dua kali. But I never feel this sad kehilangan temen gue yang satu ini. Gak tau kenapa. Mungkin karena gue keilangan nenek gue sewaktu gue masih kecil? Atau mungkin gue gak terlalu deket sama tante gue? Atau mungkin, temen gue ini, yang gue anggep cerdas, pinter, baik, tadinya invincible tapi akhirnya bisa juga dipanggil sama Yang Maha Kuasa? I don’t know.

Pulang dari pemakaman, nyetir mobil sendirian, gue ngerasa kecil. Gue ngerasa gue harus make something out of life. Badan ini dipinjamkan. Setiap tarikan napas, adalah satu tarikan napas lagi mendekati kematian. Kita harus ngebuat lebih banyak karya, lebih banyak menikmati hidup, lebih banyak mengambil kesempatan. Hidup ini cuman sekali. Akan sangat sayang untuk kita buang begitu aja. I have to enjoy life.

And, mungkin gue suatu hari bakalan mati, tapi gue pengen ngebuat sesuatu yang enggak bakal mati. Katanya Chuck Palahniuk, “The goal is not to life forever, but to create something that will.” Hidup terus. Dengan apa pun.

Temen gue itu,
tidak akan pernah gue lupain.

Gue juga gak mau dilupakan.
Gue gak mau hanya menjadi semacam nama yang hilang begitu saja.

Nama yang dipajang di atas semacam nisan, yang mungkin pertama-tama sering dikunjungi,
namun lama-lama semakin jarang. Hingga pada akhirnya hanya menjelang bulan puasa.
Nama di sebuah nisan yang berlumut. Usang. Bau. Ditakuti orang lewat.

Dan sewaktu hidup, gue gak mau jadi semacam jiwa yang memenuhi bumi ini,
menyesaki kota ini,
sama-sama makan, minum, berak, bicara. Untuk apa?

Gue mau jadi spesial.
Or, I wan’t to die special.

Goodbye Cindy,
you are special to me.

The End

On In Love and Not Being Able to Write Pretty Words

September 24th, 2009

Kata orang, kalo mau ngeblog,
tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan.

Well, saya lagi jatuh cinta,
dan saya ingin menulis tentang itu.

Now, this is the problem. Saya takut menulis tentang cinta. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Saya tidak ingin tulisan yang saya buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi madu, aku jadi lebahnya.” Hoek. Atau, “Kalau kamu jadi kumbang, aku jadi sepedanya… sepeda kumbang.” Dobel hoek.

For me, what I have with you now,
lebih dari analogi yang melibatkan serangga.

Hmmmmm…

Tapi kalau mau dianalogikan, let me get a shot: falling in love with you is like prasmanan tanpa pernah terpuaskan. Semua detail-detail sifat yang kamu tawarkan: quirkiness kamu, ketidaklaziman kamu, kemengertian kamu terhadap keanehanku (begitu pun sebaliknya), seperti di tawarkan dalam piring-piring buffet dengan silver platter yang menyala rapih. Dan kuambil. Kukonsumsi. Namun, aku masih kelaparan. Lalu kuambil, kukonsumsi kembali. Dan aku, tetap kelaparan. Saya bisa menyalahkan ini kepada sifat aku yang menagih -dan tidak pernah puas-, atau kepada kamu yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya. I can only sum it up: I. Can’t. Get. Enough. Of. You.

Waduh. Maaf, lagi puasa,
jadi analoginya nyambung ke makanan. :D

Tuh kan. Maybe I can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovey dopey poem (you know, yang kayak “ketika langit tak berbintang, maka aku..”. Damn, Triple hoek dengan cuh), I definitely can’t write music. I’m a comedy writer, therefore I’m not even good with words for these kind of things.

So, I’m gonna make this ultra-simple,
the most primitive form of telling how I feel: “I love you”.

And I love being with you! I love your giggle, your silly grin, your energetic story-telling (with your hands waving aroud), your sharp bitchiness. I love our awkwardness when our hands meet, and the fact we act it cool.Oh and I love the way you walk, the way you dance, the way you sing (god, the way you sing make angels sound like Doraemon!) and how you apply your personality in a paste. I love the look in your eyes when you showed me those MJ videos, Bruce Lee interviews, those reflective eyes, longing for perfection, filled with deep thoughts and ambitions. The ambitions that I share. The way of thinking that I understand. The unconventional person, you are. You are the odd-shaped jigsaw puzzle that I’m looking to fit. And you completed me.

Thus, when they ask me: why do you love her?
I can safely say: what is not to love?

So, I am welcoming you to my life.
Now, let’s do this together, love. :)

PS: There. The first rule of blogging: write what you feel. Safely done. No insects involved.

The End

Empat penculik kecil (2)

September 24th, 2009

Tak jauh dari arena layar tancap, di arena komedi putar, Bagus dan Darnoto terlihat asik melihati dari jauh seorang gadis manis penjual es keliling. Gadis 11 tahun bermata bulat, berkulit sawo matang dan berambut kecoklatan karena sengatan terik matahari, telah membuat mereka lupa akan misinya datang ke tempat itu. Gadis itu sedang beristirahat sejenak setelah sedari sore berkeliling menjajakan minuman dan es dagangannya. Dia duduk di rumput beralaskan sandal jepit dan tangannya yang mungil mengaduk-aduk, menghitung isi termos es yang terlihat kebesaran untuknya. Matanya yang bulat besar nampak berbinar2 , puas dengan hasil jerih payahnya hari ini. Rambutnya unik, keriting panjang digerai bebas sampai ke punggung.

Bagus dan Darnoto baru sekitar satu minggu ini melihat gadis kecil itu. Mereka selama ini tidak terlalu memperhatikannya. Beberapa kali berpapasan tapi mereka terlalu sibuk dengan mangsanya hingga tak sempat untuk sekedar menyapa. Tapi hari ini, karena malam terasa panas membuat mereka malas untuk beraksi dan hanya melihat-lihat saja dari tadi. Mata mereka akhirnya terpaku pada gadis itu. Wajahnya yang hitam manis dan rambutnya yang indah, membuat kedua anak laki2 yang instingnya terlatih oleh kerasnya kota, baru menyadari bahwa selama ini mereka ijuga ngin berteman dengan seorang gadis.

Tiba-tiba dari arah kerumunan datang seorang laki-laki berparas seram berpakaian seperti seorang preman. Laki2 itu mendekati si gadis. Kelihatannya laki2 itu ingin membeli minuman. Bagus dan Darnoto mencium akan adanya sesuatu yang tidak beres. Benar saja, gadis itu mengambilkan 2 pocari sweat dan satu kratingdaeng lalu menyerahkannya ke laki-laki itu. Ketika semestinya membayar, laki2 itu malah ngeloyor pergi begitu saja. Si gadis seketika bangkit dan mengejar laki2 itu untuk meminta bayaran.

“Bang… kok nggak bayar?” Tanya gadis itu dengan suara sedikit gemetar.

“Kan udah tadi.. Kamu mau menipu saya ya?” bentak laki2 berparas seram itu sambil membuka salah satu tutup kaleng pocarinya.

“Belum Bang…”jawab gadis itu dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Ahh..udah udah..pergi sana jualan lagi…” sahut laki2 itu seraya terus berjalan kearah dua temannya yang menunggu di bangku taman sambil merokok Djarum Black. Temannya yang satu terlihat rapi dan sepertinya orang kaya, jelas tidak berpenampilan seperti seorang preman. Badannya sedikit gemuk dan wajahnya cukup bersih. Sesekali ia memain-mainkan handphonenya yang sepertinya mahal. Sementara temannya yang satu memakai jaket kulit hitam dan tidak begitu terlihat wajahnya karena posisi duduknya yang selalu membelakangi. Sepertinya dia juga seorang preman.

Bagus seketika bangkit ingin mengejar laki2 itu. Tapi Darnoto menahannya.

“Tenang, Gus… kita lakukan seperti biasa…” bisiknya di telinga Bagus. Bagus menggeram menahan marah, sesaat dia kembali tenang.

penulis: http://widiantopanca.blogdetik.com

The End

Empat pencopet kecil

September 24th, 2009

Darnoto, juki, andre, dan bagus mendesak maju diantara kerumunan orang2 yang sedang menonton layar tancap. Mereka adalah anak2 jalanan yang sudah dari tadi menunggu saat yang tepat untuk melakukan aksinya di arena pasar malam. Dua diantaranya yaitu juki dan darnoto sangat pintar mengajak ngobrol dan mengalihkan perhatian korbannya, sementara andre dan bagaus terlatih untuk dengan sangat cepat memindahkan dompet korban ke tangannya, sehingga mereka membagi diri menjadi 2 tim, andre dengan juki, darnoto dengan bagas.

Juki sudah sejak tadi mengincar korbannya, seorang ibu yang sedang menggandeng anak laki2nya yang berumur sekitar 5 tahun. Anak itu dari tadi rewel minta dibelikan hampir semua benda yang dia lihat di pasar malam. Ibu itu kelihatan jengah dengan anaknya dan membiarkannya saja merengek2 sementara dia tetap asik menonton film india di layar tancap. Juki melihat ini sebagai peluang, sasaran empuk yang bakalan dengan mudah dia dapatkan.

Juki berjalan kea rah korbannya dengan mantap. Ia menyuruh andre menunggu tidak terlalu jauh sampai saat dia memberi kode seperti biasa dengan gerakan jari metalnya. Kini, Juki telah berada di samping anak kecil yang masih terus merengek2 itu. Juki pura2 menonton film di layar tancap, berdiri dengan bersedekap dan mendongakkan kepalanya karena terhalang pandangannya oleh seorang anak di depannya. Sesekali Juki melirik kea rah korbannya. Ibu itu sama sekali tidak memperhatikan kedatangan Juki. Dia terlihat asik sekali menikmati adegan kejar2an bintang utama dengan pacarnya di sebuah taman sambil menyanyi dan menari. Juki mulai menjalankan rencananya. Ia mendekat kea rah anak kecil dan bertanya,” kenapa Dik?”. Anak itu diam saja dan malah merengek2 lebih kenceng. Si Ibu menoleh kea rah si Juki dengan tatapan curiga. Si Juki mulai melancarkankepiawaiannya. “ Maaf, Bu… kasian anaknya tuh..” Si ibu dengan mata melotot menjawab,”Anak kecil sok pintar, udah tonton aja filmnya, nggak usah bawel!”

Juki sesaat diam. Kemudian dia memberi kode kepada andre dengan jari metalnya sambil tetap bersedekap. Andre pun berjalan mendekat. Tiba2 Juki mencubit lengan anak itu dengan sangat keras. Tak ayal lagi anak itu pun meraung2 tak karuan sambil menunjuk2 ke arah Juki. Ibunya langsung tau kalau anaknya menangis gara2 ulah si Juki dan dia pun langsung menaruh tas yang dari tadi di tentengnya di tanah. Dia meraih anaknya dan tangan satunya meraih kuping si Juki dan menjewernya kencang2 sambil memaki2 si Juki. “Dasar anak gembel! Kurang ajar kamu ya! Kmu apain anakku?” Suaranya cukup keras untuk membuat orang2 di sekitar menoleh, tapi karena memang sudah dari tadi anak ibu itu membuat kebisingan, mereka pun kembali fokus ke film yang sedang rame2nya, adegan perkelahian antara si tokoh utama dengan laki2 jahat yang dijodohkan dengan pacarnya. Andre tidak menyia2kan situasi itu, dengan sigap dia menyikat tas yang sudah tidak diperdulikan lagi oleh pemiliknya dan langsung masuk ke kerumunan penonton yang berdiri berdesakan. Juki tersenyum kecil dan kemudian dia berusaha melepaskan jeweran ibu itu. Sambil tertawa dan menjulurkan lidahnya ke ibu itu dia berlari menjauh dan menyelinap di antara kerumunan orang2.

penulis: http://widiantopanca.blogdetik.com

The End